بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Undangan Haul

Al-Maghfur lahuma

Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro

HAUL KE-48 & TEMU ALUMNI

Pondok Pesantren Al-Huda Bonggah Ploso

04 Oktober 2026

Al-Maghfur lahuma Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro

Dengan penuh hormat, kami mengundang

Yth.

Tamu Undangan

Bapak / Ibu / Saudara/i sekalian

untuk menghadiri:

HAUL KE-48 & TEMU ALUMNI

Al-Maghfur lahuma Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro

Menjaga Warisan Ilmu, Meneladani Akhlak, Meneruskan Perjuangan

Al-Maghfurlah Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro
Al-Maghfurlah Nyai Siti Shofuro

Al-Maghfur lahuma

Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro

1901 — 1978

إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dadi wong iku isoho koyo wit kencur. Andhap asor ora ono kang ngisori maneh
فِي ذِكْرِ الْأَحِبَّةِ

Mengenang

MENGENANG BELIAU

Sebuah catatan tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Dusun Bonggah yang diinisiasi oleh Al-Maghfurlah K. H. Abdullah Hasyim — perjuangan yang ia mulai bersama keluarga dan dilanjutkan oleh generasi setelahnya.

SEJARAH MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM

DI DUSUN BONGGAH, PLOSO, NGANJUK

Jejak Dakwah, Perjuangan, dan Warisan Keislaman

Tidak ada catatan yang dapat memastikan secara tepat kapan Islam pertama kali hadir di Dusun Bonggah, Ploso, Nganjuk. Namun, berdasarkan penuturan para sesepuh dan masyarakat setempat, perkembangan Islam di dusun ini mulai menemukan arah yang lebih kuat sekitar tahun 1940, ketika seorang ulama bernama K. H. Abdullah Hasyim, yang oleh masyarakat akrab disapa Mbah Hasyim, datang dan menetap di Bonggah.

Kedatangan Mbah Hasyim menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah keislaman masyarakat Bonggah. Pada masa itu, Islam sesungguhnya telah dikenal oleh sebagian masyarakat. Akan tetapi, ajaran Islam belum sepenuhnya menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Berbagai tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun masih sangat kuat, bahkan sebagian di antaranya bercampur dengan kepercayaan yang bersifat mitologis.

Pada masa tersebut, terdapat sebuah pohon besar yang oleh sebagian masyarakat diyakini memiliki kekuatan tertentu dan dijadikan sebagai tempat persembahan. Setiap tahun diselenggarakan berbagai ritual yang disertai pertunjukan kesenian seperti kledek, jaranan, dan ludruk. Sesajen diletakkan di bawah pohon tersebut sebagai bagian dari ritual yang telah menjadi kebiasaan masyarakat.

Kondisi sosial pada masa itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan kehidupan Islam. Dalam beberapa pertunjukan, sebagian penonton bahkan terlibat dalam perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, termasuk berjoget dengan penari dan mengonsumsi minuman keras.

Di tengah kondisi demikian, Mbah Hasyim tidak memilih jalan konfrontasi. Beliau memahami bahwa masyarakat memiliki tradisi dan kebudayaan yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Karena itu, dakwah tidak dilakukan dengan cara memutus masyarakat dari akar budayanya secara tiba-tiba, melainkan melalui pendekatan yang perlahan, bijaksana, dan persuasif.

Awal Perjuangan Dakwah

Mbah Hasyim mulai mengajak masyarakat untuk mengenal dan mempelajari Al-Qur'an. Dengan metode pengajaran yang lazim digunakan pada masa itu, beliau mengajarkan ilmu agama melalui sistem sorogan.

سِيرَةُ حَيَاتِهِ

Keteladanan

PERJALANAN HIDUP

Garis-garis besar perjalanan hidup Al-Maghfurlah, dari masa menuntut ilmu hingga akhir hayat, yang menjadi teladan bagi keluarga, santri, dan umat.

  1. 1901

    Lahir

    Wilangan, Nganjuk

    KH. Abdullah Hasyim, yang akrab disapa Mbah Hasyim, lahir di Wilangan, Nganjuk, pada tahun 1901. Beliau merupakan putra dari pasangan Mbah Hasan Dwiryo dan Mbah Salamah serta dikenal sebagai salah satu keturunan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir).

    Beliau kemudian menikah dengan Nyai Siti Shofuro, putri pertama KH. Imam Ahmad dan Nyai Musrifah, pendiri Pondok Pesantren Al-Islam Semanding.

  2. ± 1910–1920-an

    Menuntut Ilmu

    Mengarungi Samudra Ilmu di Berbagai Pesantren

    Mbah Hasyim menempuh perjalanan panjang dalam menuntut ilmu. Beliau tidak hanya belajar di satu pesantren, tetapi mengaji dan nyantri di beberapa tempat, di antaranya Pondok Pesantren Semanding, Punggul, Joho, dan Sulur Ngawi.

    Di Pondok Sulur Ngawi, beliau dikenal sebagai sosok yang cerdas, tawadhu', dan memiliki ketekunan dalam belajar. Salah satu kisah yang dikenang adalah ketika beliau dipercaya oleh Kiai Sulur untuk menentukan lokasi pembuatan sumur. Setelah lokasi yang beliau tunjuk digali dan batu besar berhasil disingkirkan, ternyata benar-benar ditemukan sumber air.

    Sumur tersebut bahkan masih dapat ditemukan hingga kini sebagai salah satu jejak perjalanan keilmuan beliau.

  3. Sekitar 1940

    Mulai Berdakwah di Bonggah

    Menanam Cahaya Islam di Tengah Masyarakat

    Setelah melalui perjalanan panjang dalam menuntut ilmu dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Mbah Hasyim akhirnya menetap di Dusun Bonggah, Ploso, Nganjuk, sekitar tahun 1940 bersama Nyai Siti Shofuro.

    Pada masa itu, kehidupan keagamaan masyarakat Bonggah belum berkembang secara kuat. Berbagai tradisi lokal yang bercampur dengan kepercayaan mitologis masih mengakar di tengah masyarakat.

    Mbah Hasyim memilih jalan dakwah yang perlahan, bijaksana, dan penuh keteladanan. Beliau mulai mengajarkan Al-Qur'an dengan metode sorogan, mengajak masyarakat mengikuti tahlilan, pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya.

    Dari pengajian-pengajian kecil inilah, perlahan tumbuh kehidupan Islam yang lebih kuat di tengah masyarakat Bonggah.

  4. 1964–1975

    Mendirikan Pondok & Lembaga Pendidikan

    Dari Sebuah Pengajian Menjadi Pusat Pendidikan Islam

    Semakin banyak masyarakat dan santri yang datang untuk belajar mendorong Mbah Hasyim membangun sarana pendidikan yang lebih terarah.

    Beliau mendirikan Pondok Pesantren Al-Huda, yang berarti petunjuk. Kemudian pada tahun 1964, berdirilah Masjid Al-Huda, disusul Musholla Mujahidin pada tahun 1965.

    Perjuangan pendidikan terus berkembang. Pada tahun 1975, Mbah Hasyim mendirikan Madrasah Diniyah untuk menampung santri pesantren dan masyarakat sekitar.

    Dari sinilah Al-Huda mulai tumbuh bukan hanya sebagai tempat mengaji, tetapi sebagai pusat pendidikan dan pembinaan keislaman masyarakat Bonggah.

  5. 1978

    Wafat

    Pergi Meninggalkan Ilmu dan Keteladanan

    Setelah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk ilmu, dakwah, dan masyarakat, KH. Abdullah Hasyim wafat pada hari Senin, 13 Maret 1978.

    Beliau meninggalkan Nyai Siti Shofuro, dua belas putra-putri, para santri, serta masyarakat yang telah merasakan manfaat perjuangannya.

    Namun, wafatnya beliau bukan akhir dari perjuangan. Nilai-nilai yang beliau tanamkan terus hidup melalui keluarga, santri, lembaga pendidikan, dan masyarakat yang meneruskan dakwah Islam di Bonggah.

    Mbah Hasyim dikenang sebagai sosok yang dermawan dan tawadhu'. Salah satu kisah yang menggambarkan kemurahan hati beliau adalah ketika menghadapi seorang pencuri yang mengambil jarik milik Nyai Shofuro. Alih-alih membalas dengan kemarahan, beliau justru mengambil kembali sebagian jarik tersebut dan memberikan sebagian lainnya kepada sang pencuri.

    Tentang kerendahan hati, beliau berpesan:

    Dadi wong iku isoho koyo wit kencur, andhap ashor ora ono sing ngisori maneh.

    Jadilah manusia seperti tanaman kencur; semakin rendah, semakin tidak ada yang merendahkannya.

    Warisan terbesar Mbah Hasyim bukanlah bangunan atau benda, melainkan ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, dan perjuangan dakwah yang terus dilanjutkan.

    Semoga Allah SWT menerima seluruh amal perjuangan beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

    Al-Fatihah.

HAUL KE-48 & TEMU ALUMNI

Al-Maghfur lahuma

Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro

Menjaga Warisan Ilmu, Meneladani Akhlak, Meneruskan Perjuangan

Hari & Tanggal

Minggu

04 Oktober 2026

22 Rabiul Akhir 1448 H

Waktu

06.30 WIB (Pagi)

Tempat

Pondok Pesantren Al-Huda Bonggah Ploso

Jl. Letjend Suprapto Ic No. 13 Ploso Nganjuk

Menuju Acara

MENUJU ACARA

Hari
Jam
Menit
Detik
تَرْتِيبُ الْفَاعِلِيَّةِ

Rangkaian

SUSUNAN ACARA

Rangkaian acara Haul ke-XX disusun dengan khidmat agar setiap jamaah dapat mengikuti dengan khusyuk.

  1. Registrasi Tamu

    Pengisian buku tamu

  2. Pembukaan

    Sambutan-sambutan

  3. Pembacaan Yasin & Tahlil

    dipimpin oleh para Kyai Mustajab (Kwagean)

  4. Mau'idzah Hasanah

    tausiyah oleh KH. Nama

  5. Doa

    doa dipimpin oleh KH. Nama

  6. Ramah Tamah

    konsumsi, mushafahah dan silaturahmi. Keluarga (Tempat : Aula Utama) Alumni (Tempat : Madrasah Depan)

الْمَوْعِدُ وَالْمَكَانُ

Kehadiran Anda

WAKTU & TEMPAT

Kami menantikan kehadiran para jamaah untuk bersama-sama memanjatkan doa dan mengenang jasa Al-Maghfurlah.

Waktu

Hari
Minggu
Tanggal
04 Oktober 202622 Rabiul Akhir 1448 H
Waktu
06.30 WIB (Pagi)

Tempat

Pondok Pesantren Al-Huda Bonggah Ploso

Jl. Letjend Suprapto Ic No. 13 Ploso Nganjuk

di Aula Outdoor Yayasan

Buka Google Maps
تَأْكِيدُ الْحُضُورِ

Konfirmasi

KONFIRMASI KEHADIRAN

Kehadiran Bapak / Ibu / Saudara/i sekalian merupakan kehormatan dan kebahagiaan bagi keluarga serta panitia.

Kehadiran *

Informasi Anda hanya digunakan panitia untuk keperluan acaraHAUL KE-48 & TEMU ALUMNI Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro.

الْفَاتِحَة

Untuk Almarhum

KIRIM DOA & PESAN

Pintu doa dan catatan kenangan bagi Al-Maghfurlah. Doa-doa yang terkumpul akan menghiasi halaman ini setelah ditinjau panitia.

Tuliskan Doa & Pesan

Doa & Pesan Para Jamaah

Memuat doa dan pesan…
مَعْلُومَاتٌ

Kenyamanan

INFORMASI UNTUK JAMAAH

Beberapa hal yang perlu diketahui jamaah agar dapat mengikuti acara Haul dengan nyaman dan khusyuk.

  • [INFO AREA PARKIR, contoh: tersedia lahan parkir di timur gedung untuk motor & mobil]
  • [SARAN, contoh: bagi rombongan bus, mohon berkoordinasi dengan panitia]
التَّوَاصُلُ

Silaturahmi

NARAHUBUNG PANITIA

Apabila terdapat pertanyaan seputar acara, jamaah dapat menghubungi panitia di bawah ini.

N

[NAMA PANITIA 1]

Koordinator Acara

Hubungi Panitia
N

[NAMA PANITIA 2]

Informasi Jamaah

Hubungi Panitia

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Al-Maghfurlah dan menempatkan beliau di tempat yang terbaik.

Turut mengundang, Panitia HAUL KE-48 & TEMU ALUMNI Kyai Abdullah Hasyim & Ny. Shofuro

04 Oktober 2026 · Pondok Pesantren Al-Huda Bonggah Ploso

[NAMA YAYASAN / PANITIA] · 2026